COCO (2017)
Sutradara Lee Unkrich
Penulis Lee Unkrich
Pemain Anthony Gonzalez, Gael Garcia Bernal
Durasi 1 Jam 42 Menit
Rilis 22 November 2017
Budget $ 200.000.000
Worldwide Gross $ 681.516.792
Subtitle Rilis 30 Januari 2018
Rekues Berbayar Fabian. A P A Y P E R R E Q U E S T
---------------------------------------------------------------------
Subtitle
Indonesia Subtitle Blu-Ray HD
--------------------------------------------------------------------- Indonesia Subtitle Blu-Ray HD
Subtitle
Indonesia Subtitle R6 WEB-DL / HDRip / WEBRip
Subtitle
Indonesia Subtitle DVDScr
--------------------------------------------------------------------- Indonesia Subtitle DVDScr
Indonesia Subtitle HD-TC
Subtitle
Indonesia Subtitle HD-TS
---------------------------------------------------------------------
Follow Instagram saya, ya teman-teman, gres bikin nih
Apalagi bagi yang ingin tau penampakan sayah
----> @paint_lapain <----
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------Indonesia Subtitle HD-TS
---------------------------------------------------------------------
Follow Instagram saya, ya teman-teman, gres bikin nih
Apalagi bagi yang ingin tau penampakan sayah
----> @paint_lapain <----
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Klik Link yang ada --- Tunggu hingga keluar goresan pena “VISIT LINK”
Setelah itu Klik “VISIT LINK” dan tunggu masuk ke daerah download
---------------------------------------------------------------------
STREAMING MOVIES & DOWNLOAD
WWW.AKATSUKIMOVIE.COM
---------------------------------------------------------------------
STREAMING MOVIES & DOWNLOAD
WWW.AKATSUKIMOVIE.COM
---------------------------------------------------------------------
Trailer
---------------------------------------------------------------------
Sebuah Coretan
Subtitle orderan “FABIAN. A” terima kasih banget.
Keluarga Rivera, dihancurkan oleh musik, dikuatkan oleh sepatu. Selama beberapa generasi, mereka membenci musik dan memfokuskan diri dengan menciptakan sepatu. Miguel merasa dirinya berbeda dari anggota keluarga lainnya. Dia lebih menyukai musik dan secara rahasia mempelajarinya. Pada hari "Día de los Muertos,” Miguel mencuri gitar penyanyi legendaris Meksiko, Ernesto de la Cruz. Akibatnya, Miguel terdampar di Dunia Kematian dan mendapati kenyataan yang akan merubah nasib dirinya dan juga keluarganya.
Dari premisnya, film ini menggandakan The Book Of Life (2014). Beberapa membela Pixar dan menyatakan bahwa film Coco dimulai semenjak tahun 2010. Nyata, tahun itu gres sebatas ilham dan sangat berbeda dari dongeng di film ini. Ide awalnya lebih menyikapi bocah amerika (whitewashing banget) yang ternyata mempunyai leluhur orang Meksiko. Jadi, ya, ini film ngejiplak The Book Of Life, wkwkwkwk.
Saat pemutaran di Amerika, Disney dituduh Whitewashing. Meski film bertema Meksiko, tapi tetap menyelipkan huruf kulit putih yang diwakili oleh Olaf + Frozen. Hasilnya, banyak yang protes. Protesnya kebanyakan dari anak kecil yang aslinya absurd Frozen. Menurut belum dewasa itu, Olaf terlalu booring dan terlalu lama, 20 menit boo. Biasanya short animated movie cuman maksimal 5 menit. Kalau dari orang dewasa, mereka menuduh Whitewashing di atas film dengan budaya hispanik Meksiko yang kental. Protes tersebut memaksa Disney mencopot “film pendek tapi panjang” Olaf dari bioskop-bioskop di Amerika Utara. Baca komen-komen di imdb lucuk banget, benar-benar bencik semua sama Olaf + Frozen.
Disney juga dituduh rakus dan tamak, mengingat logonya tikus sih. Mereka berusaha menciptakan trademark dengan goresan pena Dia de los Muertos. Nantinya dibentuk untuk penjualan souvenir. Bisa ditebak, banyak yang murka dan memelesetkan simbol tikus mickey disney. Tentu saja, Dia de los Muertos merupakan budaya Meksiko dan tidak untuk dieksploitasi dan diperjual belikan kalangan tertentu yang ujung-ujungnya bakal di klaim hak cipta (mirip kasus nama klaim merek Toraja sama orang jepun, yang alhasil Indonesia kalah, murung banget).
Balik ke film, film ini benar-benar kaya akan budaya Meksiko, kental banget! Mulai dari karakter, seting, musik hingga tradisi yang mereka anut. Ceritanya yang praktis ternyata sanggup berakhir dengan sangat menyentuh dengan air mata berlinang. Tahu gitu, tiketnya dikasih bonus tisu. Lagu-lagunya juga mengena banget, mulai dari Remember Me dan paling favorit, Proud Corazon. Ada twist yang tidak mengecewakan di film ini, meski agak-agak ketebak di awal sih.
Meski Meksiko agama Katholiknya kental dan berpengaruh banget, tapi mereka tetap memegang teguh budaya mengagungkan nenek moyang atau leluhur. (Nah, kedua hal tersebut juga terlihat membaur di film ini) Bisa ditelusuri dari ribuan tahun yang kemudian mengenai akar budaya Hari Orang Mati. Mereka menciptakan kuliner kesukaan para leluhur yang telah meninggal, menceritakan kisah-kisah mereka dan menebar bunga dari makam hingga rumah.
Tak beda jauh dengan Indonesia, terutama Jawa dengan adab istiadat selametan memperingati mereka yang meninggal (ya, di agama Katholik di Indonesiapun ada dan difasilitasi Gereja). Juga, ketika ada yang meninggal, menebar beras kuning + bunga mulai dari rumah hingga ke makam. Nah, ga beda jauh kan? Bedanya di Meksiko jauh lebih glamor sih dan jadi program wajib kumpul-kumpul anggota keluarga.
Penggambaran kuil-kuil Maya juga ada di film ini, termasuk Alebrijes yang terpahat di Piramid Maya, Aztec hingga Inca. Seperti yang saya tulis di atas, jika nonton film ini siap-siap tisu ya. Ga berpengaruh banget adegan Coco nyanyi di selesai film.
Kalo mau lihat, jangan ragu, tonton ajah.
Lumayan kok, donlod juga gratis, streaming di www.AKATSUKIMOVIE.COM juga bisa.
Kalo mau lihat, jangan ragu, tonton ajah.
Lumayan kok, donlod juga gratis, streaming di www.AKATSUKIMOVIE.COM juga bisa.
Rate Pribadi
9/10
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------


0 Response to "Coco (2017)"